Rabu, 11 September 2019

Journey Coffee and Records, Ngopi di Toko Musik

Pecinta musik alternatif wajib ke sini. (Sumber: dokumen pribadi)


Journey Coffee and Records, salah satu tempat nongkrong di daerah Affandi ini punya daya tarik tersendiri. Lokasinya cukup strategis dan terletak di tepi jalan yang relatif sepi, kondusif untuk ngopi. Sesampainya di depan bangunan tiga lantai dengan aksen monokrom, jangan ragu untuk membuka pintunya. Temukan kopi favorit dan perjalanan musik arus pinggir di dalamnya. Sesuai namanya, Journey Coffee and Records berkonsep coffee shop sekaligus ‘surga’ penikmat musik alternatif. Berdesain minimalis, Journey Coffee and Records cocok untuk anda yang ingin melepas penat dari hiruk pikuk rutinitas dengan musik dan segelas ice coffee di tangan.

Selengkapnya sila klik,

Selasa, 03 September 2019

Mencicipi Garang Asem Kudus di Jogja


Kini anda bisa menikmati garang asem tanpa harus ke Kudus, karena RM Gasasa Kudus membuka cabang di Jogja. RM Gasasa memang terkenal dengan menu Garang Asem Ayam yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah. Tak hanya di Kudus, RM Gasasa juga membuka cabang di Pati dan Semarang. Nah, apakah garang asem di RM Gasasa cabang Jogja akan seenak garang asem RM Gasasa di Kudus?


RM Gasasa Kudus Cabang 2 terletak sekitar 200 meter di utara pom bensin Jogokariyan. Jika anda mencari lokasinya, berkendaralah perlahan agar tidak kebablasan atau terlewat, karena tidak terpasang papan penanda RM Gasasa. Tempatnya tidak terlalu luas, daya tampung 30 orang. Namun itu tidak mengurangi suasana suasana santap siang maupun malam dengan berbagai menu di RM Gasasa. Tersedia ayam goreng, pindang kerbau, nasi rames, lontong opor, dan tentu saja garang asem ayam sebagai menu andalan RM Gasasa. Untuk minuman, tersedia teh dan jeruk, es buah, es kopyor, kopi, dan aneka jus.


Tak butuh waktu lama sampai pesanan datang. Dengan tagline Puedese Puool, rasa dari garang asem memang asam asam pedas. Pedasnya mengigigit, apalagi saat disajikan dengan ditemani segelas teh panas, mantap! Satu porsi garang asem ayam, berisi potongan besar daging ayam yang lembut, kuah santan, cabai, dan belimbing sayur. Ditambah dengan sepiring nasi, garang asam ayam cukup untuk mengganjal perut. Meskipun bagi yang terbiasa makan dengan porsi besar, disarankan untuk memesan sepiring nasi tambahan.


Mertua garang... Itu biasa.
Bini garang... Ah, sudah biasa.
Pacar garang... Terlalu biasa.
Garangnya Garang Asem Sari Rasa... Luar biasa!
Ada cerita menarik mengenai garang asem. Garang asem memiliki komposisi dan penyajian yang berbeda di setiap daerah. Seperti garang asem di Pekalongan, Jawa Tengah, yang langsung disajikan di piring tanpa dibungkus daun pisang. Berbeda dengan garang asem di Semarang, Demak, Kudus, Pati, yang terbungkus daun pisang sebagai ciri khas.

Selain itu, garang asem sebenarnya berasal dari Grobogan, Jawa Tengah. Namun tampaknya, garang asem kudus yang paling terkenal. Seperti RM Gasasa yang membuka cabang di Pati dan Semarang, populer dengan nama RM Gasasa Kudus, bukan Gasasa Semarang apalagi Gasasa Pati. Lain kesempatan, saya akan coba garang asem ayam Pati dan garang asem ayam Semarang.


Ini adalah kali pertama saya menyantap garang asem ayam. Saya bahkan harus Googling apa itu garang asem ayam. Semacam pepes, tapi berkuah. Anak zaman sekarang mah, terbiasa makan KFC dan kawan-kawannya.

Setelah dicoba, ternyata, rasanya memang jauh berbeda, tapi sama enaknya. Sebenarnya sih, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan Richeese Factory atau Shihlin Taiwan Street Snacks, karena garang asem ayam kan, berkuah, dibungkus daun pisang pula. Ndeso banget, menu khusus orang tua dan lansia, menurut saya. Tetapi ada sensasi nagih ketika melahap potongan daging ayam dengan kuah santan yang asam-asam pedas. Belimbing sayurnya juga sedap, melengkapi daging ayam, potongan cabai, dan kuah santan dalam seporsi garang asem ayam. Sekarang saya lebih banyak tahu tentang kuliner Jawa, masing-masing memiliki cita rasa khas dan potensi diplomasi kuliner. Makanan kekinian memang menarik, tapi kuliner tradisional jangan dilupakan.

Perlu diingat bahwa RM Gasasa hanya membuka satu outlet di Jogja. Pastikan anda mampir ke RM Gasasa Kudus Cabang 2 jika ingin mencicipi Garang Asem Kudus di Jogja. Ajak kawan dan keluarga juga ya! 






RM Gasasa Kudus Cabang 2
Jl. Parangtritis No.108, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143
Telepon: 0815-7577-7700
Buka setiap hari pukul 09.00–20.00 WIB


Jumat, 30 Agustus 2019

Secangkir Kopi Bersama Kumpeni

Salah satu sudut di Kumpeni Ice Cream & Coffee. 

Jika Anda sedang berada di Jogja, sempatkan diri untuk ngopi di Kumpeni Coffee & Ice Cream. Lokasinya cukup strategis karena Kumpeni Coffee & Ice Cream terletak di selatan RS PKU Muhammadiyah, tepatnya di Jalan Nyai Ahmad Dahlan nomor 32. Meskipun Kumpeni Coffee & Ice Cream terletak di tepi jalan, suasananya tidak terlalu bising oleh lalu lalang kendaraan yang melewatinya.

Sesuai namanya, Kumpeni Coffee & Ice Cream menempati sebuah rumah bergaya klasik yang konon sudah berdiri sejak tahun 1932. Tak hanya menyediakan kopi, Kumpeni Coffee & Ice Cream juga menyediakan berbagai varian es krim dan makanan pendamping seperti bitterballen, pancake dan ice cream.
Selengkapnya sila klik,

Selasa, 13 Agustus 2019

[MOVIE REVIEW] Bumi Manusia (2019)


Saya berkesempatan menonton penayangan perdana film Bumi Manusia pada tanggal 10 Agustus 2019 lalu di XXI Sleman City Hall, bersama Kagama Virtual, ikatan alumni UGM yang rutin menggelar nonton bareng film tanah air. Berbekal rasa ingin tahu yang besar dengan adaptasi buku pertama Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer ke dalam layar lebar, saya menonton tanpa ekspektasi apapun terhadap film produksi Falcon Pictures ini. Terlebih, saya memosisikan diri sebagai penonton awam sekaligus anak muda yang asing dengan Tetralogi Pulau Buru. Sehingga, saya hanya akan menceritakan pengalaman menonton film dan pesan-pesan yang berhasil saya bawa pulang setelah 3 jam duduk manis menyimak tangis Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies.
Lupakan perdebatan tentang Iqbaal yang jauh dari bayangan untuk memerankan Minke. 
Lupakan sangsi terhadap Hanung Bramantyo yang cenderung meromantisasi sejarah dan tragedi.
Lupakan tentang betapa imajinasi anda terhadap Bumi Manusia buyar oleh film berdurasi 3 jam ini.
Tonton sajalah, anda bisa berkomentar nanti.

Film dibuka dengan extreme close up Minke, dan diakhiri dengan Minke yang tenggelam dalam dekapan Nyai Ontosoroh, menangis. Apa saja yang terjadi sejak Minke membuka mata hingga hampir tersungkur di rumahnya sendiri? Ya, kalau diceritakan sih, tidak cukup 500 kata di review kali ini. Singkat kata, Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies, mewakili kata perlawanan, perjuangan, dan penerimaan nasib.


Minke yang sedang menyelesaikan studi di Hogere Burger School (H.B.S.), menunjukkan bakat menuangkan pikiran briliannya ke dalam artikel yang dikagumi khalayak dan kerap dimuat di surat kabar Belanda. Dengan nama pena Max Tollenaar, ia mengkritisi ketimpangan sosial antara Eropa, Indo, dan bumiputera di Soerabaja, di mana pribumi selalu berada ‘di bawah kaki’ Eropa dan ‘dipaksa berjongkok’ di belakang Indo. Menjadi tamu di rumah sendiri, itulah titik awal perlawanan Minke terhadap kolonialisme Belanda yang mewarnai keseluruhan plot film ini.


Hingga suatu hari Minke dan Robert Suurhorf temannya, mengunjungi Boerderij Buitenzorg, perkebunan dan peternakan luas milik Herman Mellema yang dikelola oleh Nyai Ontosoroh, gundiknya. Kunjungan tersebut mempertemukan Minke dengan Annelies Mellema, Indo yang bertekad hidup sebagai pribumi. Buitenzorg menjadi saksi cinta yang bersemi antara dua sejoli, di tengah konflik antarkelas sosial tak berkesudahan dan penindasan pribumi. Nyai Ontosoroh mendukung penuh kedekatan Minke dan Annelies, yang ia anggap sebagai harapan atas kehidupan lebih baik bagi Annelies. Pun dengan pemikiran progresif Minke terhadap situasi sosial dan pengelolaan bisnis, Nyai Ontosoroh perlahan mulai simpati dan menganggap Minke seperti anak sendiri.


Di balik kehidupan serba cukup yang dijalani Nyai Ontosoroh, tersimpan beban pengorbanan di masa lalu, yang membawanya dari kehidupan sederhana gadis kampung menuju kehidupan aristokrat nyonya perkebunan dan peternakan mahsyur Mellema, hingga terseret ke pengadilan tanpa keadilan yang membuatnya terpisah dari keluarganya sendiri, sekali lagi. Nyai Ontosoroh, menurut saya merupakan peran sentral yang menjembatani ketimpangan kelas sosial dan kolonialisme Belanda yang diceritakan di Bumi Manusia. Apresiasi tinggi bagi Sha Ine Febriyanti yang berhasil mendapatkan dan menghidupkan peran impiannya sebagai Nyai Ontosoroh. Ia tak hanya berakting, tetapi juga hidup sebagai Nyai Ontosoroh selama proses syuting. Real.

Masih segar di ingatan saat Nyai Ontosoroh menampar Robert Mellema anaknya, karena Robert tidak menuruti perintahnya untuk mencari Minke. Ia tak hanya menampar sebagai ibu yang kecewa, tapi juga sebagai wanita yang terinjak harga dirinya karena dianggap rendah oleh anak Indonya. Sekuen tersebut kabarnya diulang hingga 30 kali, demi mendapatkan kesan sungguhan antara Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) dan Robert Mellema (Giorgino Abraham). Atau ketika Nyai Ontosoroh diadili oleh hukum Eropa, ia yang terkesan anggun, penyayang, dan bijaksana selama durasi film berjalan, mampu menunjukkan kemarahan, kesedihan, dan ketegaran di akhir cerita. Saya terpukau dengan atmosfer emosional dalam adegan pembelaan Nyai Ontosoroh terhadap nasibnya sebagai seorang gundik dari Herman Mellema sekaligus ibu kandung Annelies Mellema. Belum pernah saya melihat seorang ibu begitu terpuruk dan tak berdaya demi keluarganya seperti Nyai Ontosoroh dalam adegan tersebut.


Bagaimana dengan Annelies? Bunga Penutup Abad dari Buitenzorg itu tak hidup lebih baik. Ia lahir dari tempaan dan kesedihan, lalu hidup dengan beban dan nasib yang tak bisa ia tentukan. Jika ada yang berpendapat Mawar Eva de Jongh tidak sesuai memerankan Annelies, silakan. Tetapi menurut saya, yang baru saja mengenal kedua nama tersebut saat menonton filmnya, Mawar Eva de Jongh adalah Annelies di kehidupan nyata. Pertama karena keduanya berdarah Belanda-Indonesia. Kedua, mereka memiliki sisi melankolis dilihat dari sorot matanya. Apakah Mawar berhasil memerankan Annelies? Saksikan saja Bumi Manusia, semoga anda tabah menyaksikan Annelies menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.

Oh, jangan lupakan Iqbaal Ramadhan yang kuat dengan persona Dilan. Jika sebelumnya ia terkenal dengan rayuan gombal picisannya kepada Milea, sikap angkuh sok tangguh dengan wajah baby face-nya, dan sikap memberontak terhadap Suripto gurunya, well, anda akan melihat akting serupa di Bumi Manusia. Setidaknya itu pendapat saya sebelum 30 menit terakhir film. 

Saya akhirnya menyadari, akting Iqbaal Ramadhan sebagai Minke di Bumi Manusia berada di level berbeda. Saya melihat Minke mengamuk, pasrah, dan kalah atas perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda, bermodal mesin tik dan pena. Saya juga melihat Minke berwibawa di mata Eropa lewat pidatonya, untuk kemudian bersimbah air mata, dan kehilangan seseorang yang selama ini ia perjuangkan sepenuh jiwa dan raga, Annelies Mellema. Jika Minke menganggap dirinya kalah, maka Iqbaal telah menang. Iqbaal Ramadhan berhasil membuktikan bahwa ia mampu memerankan Minke dengan sekuat-kuatnya dan sehormat-hormatnya.

Film Bumi Manusia juga menyiratkan pesan bahwa semua manusia setara, warna kulit dan bahasa tak menghalangi mereka untuk duduk bersama. Bahwa Jawa tak melulu kolot, dan Eropa tak selamanya mendominasi strata sosial masyarakat. Bahwa kasih ibu sepanjang masa, dan cinta seharusnya mampu mengikis dinding perbedaan dan menguatkan kita saat dihadapkan dengan segala ketidakmungkinan.

Duh, siapin tisu pokoknya.

Secara keseluruhan, film Bumi Manusia adalah film yang bagus, dibuat dengan hati dan kurasi tinggi, oleh sederat sineas ternama tanah air. Sebut saja Salman Aristo yang berulang kali diminta Hanung Bramantyo untuk menulis naskah Bumi Manusia, dan Ipung Rachmat Syaiful dengan tangan dingin sinematografinya. Scoring sangat mendukung suasana. Ditambah dengan lantunan lagu "Ibu Pertiwi" persembahan Iwan Fals, Once Mekel, dan Fiersa Besari sebagai pembuka dan penutup film. Properti dan tata artistik benar-benar total, walaupun masih ada kurangnya, karena toh, tidak ada yang sempurna di dunia. Satu hal yang pasti, Indonesia patut bangga pada Bumi Manusia.

Meskipun kalau saya boleh berharap, Bumi Manusia (2019) akan memiliki versi serupa 12 Years A Slave (2013). Lebih intens, lebih objektif, dan lebih fokus menggambarkan konflik sosial serta adaptasi sejarah sebagaimana mestinya.

Jangan lewatkan penampilan Giorgino Abraham (Robert Mellema), Bryan Domani (Jan Dapperste), Jerome Kurnia (Robert Suurhorf), Doni Damara (ayah Minke), Ayu Laksmi (ibu Minke), Whani Darmawan (Darsam), Chew Kin Wah (Babah Ah Tjong), Hans de Kraker (Jean Marais), Ciara Brosnan (May Marais), Peter Sterk (Herman Mellema), Jeroen Lezer (dr. Martinet), Dewi Irawan (Mevrow Telinga), Robert Prein (Maurits Mellema), Kelly Tandiono (Maiko), dan Christian Sugiono (Kommer).

Bumi Manusia tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Agustus 2019.




Senin, 01 Juli 2019

Berkemah Ala Milenial di DeLoano Glamorous Camping


Pernah mendengar DeLoano Glamorous Camping? Perkemahan binaan Badan Otorita Borobudur (BOB) ini masih terbilang baru, karena baru saja diresmikan Februari 2019 lalu. Meskipun begitu, DeLoano Glamorous Camping sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas nomadic tourism menawarkan pengalaman berkemah tanpa repot membawa alat kemah, dengan area perkemahan yang instagram-able sekaligus wisata alam.

Terletak di Kelurahan Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, DeLoano Glamorous Camping dapat ditempuh satu jam dari Yogyakarta menggunakan bus atau kendaraan pribadi. Jika anda datang menggunakan bus pariwisata, berhentilah di pintu masuk Wisata Alam Nglinggo Tlitis. Selanjutnya, penumpang akan diantar ke DeLoano Glamorous Camping menggunakan angkot atau odong-odong yang dikelola penduduk sekitar.

Odong-odong siap mengantar pengunjung sampai tujuan. (Sumber: dokumen pribadi)

Situasi di sekitar DeLoano Glamorous Camping. (Sumber: dokumen pribadi)
Tidak ada papan bertuliskan DeLoano Glamorous Camping, hanya ada untaian bambu membentuk gapura bertuliskan Borobudur Highland. Tapi jangan tertipu, justru itulah pintu masuk menuju DeLoano Glamorous Camping. Sebelum sampai ke area perkemahan, anda harus beriringan menyusuri jalan setapak bambu, semakin seru jika ramai bersama rombongan, menambah sensasi Persami.

Pintu masuk DeLoano Glamorous Camping. (Sumber: dokumen pribadi)

Jalan setapak bambu menuju area perkemahan. (Sumber: dokumen pribadi)

Dibangun di lahan seluas 1,5 hektar dan dikelilingi pepohonan pinus, DeLoano Glamorous Camping menyediakan berbagai jenis tenda, antara lain tenda berkapasitas 2-3 orang dan 9 tenda reguler berkapasitas 4-6 orang, lengkap dengan kasur busa, selimut, bantal, listrik, dan penerangan. Serta 1 tenda VIP berkapasitas 2 orang yang didesain bak kamar hotel. Tarif sewa tenda mulai Rp 150.000,-/orang untuk tenda biasa, Rp 350.000,-/orang untuk tenda reguler, dan Rp 700.000,-/orang untuk tenda VIP. Khusus penyewa tenda reguler dan tenda VIP, setiap orang mendapatkan jatah dua kali makan dan tiket masuk Bukit Ngisis Nglinggo. Fasilitas lainnya ada tenda restoran, tenda musala, panggung, area api unggun, toilet reguler dan toilet VIP didesain berwarna-warni, listrik, dan tentu saja akses Wi-Fi.


Tampak depan DeLoano Glamorous Camping. (Sumber: dokumen pribadi)

Area perkemahan bergaya rustic nan instagram-able. Sumber: (dokumen pribadi)

Panggung dan area api unggun di DeLoano Glamorous Camping. Sumber: (dokumen pribadi)

Hutan Pinus Nglinggo sekaligus jalur jip Rimbono Off Road. Sumber: (dokumen pribadi)

Tak lengkap rasanya jika berkemah tanpa menjelajah alam. Tak jauh dari DeLoano Glamorous Camping, terdapat Desa Wisata Nglinggo dan sejumlah destinasi wisata alam yang pantang anda lewatkan. Beberapa diantaranya adalah wisata edukasi di Kebun Teh Nglinggo. Kebun teh ini terletak di ketinggian 800 mdpl Pegunungan Menoreh, pengunjung bisa berkeliling dan mencoba teh asli Nglinggo yang bisa diseduh dan dijadikan sayur. Senang bermain air? Singgah sejenak di Curug Watu Jonggol, atau mengunjungi Hutan Pinus Nglinggo seluas 350 hektar sembari outbond dan trekking, berfoto di Bukit Ngisis, Puncak Widosari, dan Gunung Jaran, serta menyusuri hutan pinus dengan jip Rimbono Off Road, siapkan baju ganti dan air minum untuk pengalaman satu ini.

Pengemudi jip Rimbono Off Road berpose usai tur hutan pinus. Sumber: (dokumen pribadi)


Kebun Teh Nglinggo di sepanjang jalan. Sumber: (dokumen pribadi)

Jalan masuk area Bukit Ngisis Nglinggo. Sumber: (dokumen pribadi)

Spot strategis untuk berfoto di Bukit Ngisis Nglinggo. Sumber: (dokumen pribadi)

Butuh waktu paling cepat 10 menit untuk sampai di Puncak Widosari. Sumber: (dokumen pribadi)

Tantangan menaklukan ratusan anak tangga, berhadiah pemandangan sunset. Sumber: (dokumen pribadi)

Salah satu sudut foto di Puncak Widosari. Sumber: (dokumen pribadi)

Konon terdapat bukit yang tampak seperti Buddha tertidur di sini. Sumber: (dokumen pribadi)

Jalur jip Rimbono Off Road di hutan pinus, menanjak hingga kemiringan 30 derajat. Sumber: (dokumen pribadi)

Rombongan jip Rimbono Off Road bermuatan 2-4 orang. Sumber: (dokumen pribadi)

DeLoano Glamorous Camping dan Desa Wisata Nglinggo ini berada di kawasan perbatasan Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo, tentunya memudahkan pengunjung untuk berpindah dari destinasi wisata satu ke destinasi wisata lainnya. Jika anda berniat menghabiskan waktu lebih lama untuk berlibur di DIY dan Jawa Tengah, pastikan DeLoano Glamorous Camping dan Desa Wisata Nglinggo termasuk dalam daftar anda.

DeLoano Glamorous Camping
Instagram: @deloano_glamping
Info dan reservasi: 08112654595
Pangkuan Sedayu, Desa, Sibebek, Sedayu, Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah 54183

Rabu, 22 Mei 2019

[MOVIE REVIEW] Aladdin (2019)


Jika alasan anda menonton live action Aladdin adalah untuk menyaksikan tur singkat karpet ajaib diiringi lagu hit A Whole New World, anda tidak sendirian. 

Trailer telah menunjukkan beberapa bagian terbaik dari film adaptasi Aladdin yang disutradarai oleh Guy Ritchie. Film berdurasi 2 jam ini dibuka oleh aksi kucing-kucingan antara pencuri ulung nan cerdik bernama Aladdin, yang dibantu oleh seekor capuchin bernama Abu, dengan sekumpulan prajurit keamanan berwajah keras khas Timur Tengah. 

Hingga di menit ke-15, muncul Jasmine yang mengaku sebagai pelayan istana bernama Dalia, meskipun terlalu mencolok dengan pakaian kelas atas dan perhiasannya. Ia terlibat dalam 'permainan sehari-hari' Aladdin dalam bertahan hidup dan mencari makan-mencuri barang berharga dan melarikan diri sampai kehabisan tenaga. Penokohan Aladdin dan Jasmine sangat kuat sejak awal dan itu menjadi awalan yang bagus untuk meniti alur selanjutnya.

Hasil gambar untuk aladdin
"Mau dong diajak keliling kota sama kamu, Din," batin Jasmine si anak rumahan kurang pergaulan.
Selama diperkenalkan dengan karakter Aladdin dan Jasmine, anda akan terbawa suasana pasar di Timur Tengah (meskipun tidak semua pemain dan figuran berdarah Arab) dengan scoring Arabian Night yang mendayu-dayu dan ketukan ritmis ketipung yang membuat tubuh anda bergerak mengikuti irama. Visual penuh motif dan corak beraneka warna dari detail kain, ukiran dinding, long shot bangunan dan istana, serta bermacam pakaian kurung memanjakan mata anda. Meskipun tentu saja, visual garapan Disney sengaja dibuat untuk memenuhi imajinasi tertinggi anda akan dunia antah berantah di luar sana. 

Suasana menjadi lebih hidup ketika The Blue Genie yang diperankan oleh Will Smith muncul sebagai teman seperjalanan Aladdin dalam usaha mendekati Jasmine yang 'dikurung' di istana. Bersama Abu dan Magic Carpet, tokoh Genie menjadi formula penting dalam penokohan sebuah geng pertemanan: Si Jagoan yang emosional dan ceroboh, Si Serba Bisa yang membantu jalan cerita, dan Si Kocak yang mampu mempengaruhi sisi emosional tokoh lainnya, bahkan penonton. Genie adalah tokoh Si Kocak itu. Genie yang pada awalnya berperan sebagai 'pelayan ramah', pada akhirnya memiliki cerita tersendiri dan sudah bisa ditebak saat adegan kapal layar di awal film.

Gambar terkait
The Blue Genie, jin pesugihan yang ramah dan baik hati.
Sebagian besar penonton di studio adalah perempuan, yang nampaknya tergiur dengan dongeng putri dan pangeran yang jelas-jelas berakhir bahagia.
Anda tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami alur cerita Aladdin, anda hanya perlu bersabar menikmati setiap konflik yang disajikan film ini. Mulai dari pencarian jati diri, proses pdkt lengkap dengan sensasi 'kupu-kupu di perut', berdamai dengan masa lalu, mengatasi pengkhianat yang tirani, hingga kisah cinta berliku Si Miskin dan Si Kaya yang selalu menjadi jualan laris drama romansa, termasuk semua film bertema kerajaan besutan Disney. Selain itu, setiap tokoh berada dalam zona hitam dan putih, dimana setiap tokoh dibangun 100% protagonis dan antagonis, sehingga tidak sulit menginginkan Jafar cepat mati atau Jasmine jadian dengan Aladdin. Ungkapan "Yang baik selalu menang" berlaku di sini.

Hasil gambar untuk aladdin
"I am not the second!"
Memasuki paruh kedua film, penonton dihadapkan pada konflik hubungan ayah-anak antara Sang Sultan dan Jasmine dan pertemanan Aladdin dengan Genie. Keduanya diceritakan terpisah namun saling berhubungan. Alur berjalan pelan namun pasti. Keindahan visual, properti, scoring, dan adegan ikonik karpet terbang membantu penonton tetap fokus pada jalan cerita. Hampir tidak ada waktu untuk mencermati dialog yang rancu, ekspresi yang kaku, atau logika yang gagal. Film Aladdin memang dihadirkan sebagai nostalgia bagi para penggemar animasi Aladdin (1992) maupun penonton awam yang memutuskan duduk di bioskop karena tergiang-ngiang lagu "A Whole New World" sejak pemasaran perdana film ini.

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah casting pemeran film adaptasi Aladdin. Mena Massoud merupakan representasi terbaik dari Aladdin, raut wajah Timur Tengah, alis tebal, dan senyumnya yang tanggung memenuhi ekspektasi penggemar Aladdin akan sosoknya di dunia nyata. Pun dengan aksi parkour-nya saat berkejaran dengan penjaga keamanan di Kota Agrabah. Naomi Scott, she nailed it! Scott mampu membawakan karakter Jasmine yang bermimpi besar, mandiri, dan penyayang dengan baik. Ia juga mampu menyampaikan emosi Jasmine saat ayahnya dikudeta, atau sikap mau tapi malu Jasmine saat tarik ulur dengan Aladdin. Ditambah dengan vokalnya saat membawakan lagu "A Whole New World" film version, bak cherry on top, sedap sekali.

Nostalgic and entertaining. A must watch for this May!


ALADDIN (2019)
Berdasarkan karya Aladdin and the Magic Lamp dari 1001 Nights oleh Ron Clements, Jon Musker, Ted Elliott, Terry Rossio.

Film ini ditonton pada tanggal 22 Mei 2019.